Jepang tidak diragukan lagi adalah salah satu destinasi wisata paling populer di dunia bagi wisatawan Indonesia. Pesona budaya tradisional, kemajuan teknologi, serta keindahan empat musimnya selalu berhasil memikat hati siapa saja. Selain itu, daya tarik utama lainnya adalah kulinernya yang mendunia, seperti sushi, ramen, udon, dan yakiniku. Namun, bagi wisatawan Muslim, tantangan terbesar saat berlibur ke Jepang adalah mencari makanan yang terjamin kehalalannya, mengingat bumbu-bumbu dasar masakan Jepang sering kali menggunakan bahan seperti mirin, sake, dan kecap yang mengandung alkohol, serta tingginya konsumsi daging babi.

Kabar baiknya, dalam dekade terakhir, Jepang telah menjadi destinasi yang jauh lebih ramah Muslim (Muslim-friendly). Menyadari tingginya lonjakan turis dari negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia, pemerintah dan pelaku usaha kuliner di Jepang mulai berbenah. Kini, menemukan restoran yang bersertifikat halal atau setidaknya menyediakan menu Muslim-friendly di kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka bukanlah hal yang mustahil. Dari warung ramen kecil hingga restoran yakiniku mewah, pilihan kuliner halal di Jepang semakin beragam dan mudah diakses melalui berbagai aplikasi pencari restoran halal.

Salah satu hidangan yang paling wajib dicoba saat berada di Jepang adalah ramen. Jika dulu ramen identik dengan kaldu tulang babi (tonkotsu), kini banyak restoran ramen halal yang menggunakan kaldu ayam, daging sapi, atau kaldu ikan yang tidak kalah lezat dan gurih. Restoran seperti Shinjuku Gyoen Ramen Ouka atau Halal Menya Naritaya di Tokyo menawarkan semangkuk ramen panas dengan mi kenyal, irisan daging ayam yang empuk, dan telur rebus setengah matang yang lumer di mulut. Rasanya yang autentik membuktikan bahwa makanan halal di Jepang tetap bisa mempertahankan kualitas rasa aslinya tanpa mengorbankan syariat.

Selain restoran khusus, Anda juga bisa menemukan banyak camilan dan makanan instan halal di convenience store (konbini) seperti 7-Eleven, FamilyMart, atau Lawson. Membaca komposisi bahan pada kemasan berbahasa Jepang mungkin merepotkan, namun saat ini sudah banyak komunitas Muslim atau aplikasi yang menyediakan daftar produk minimarket Jepang mana saja yang aman dikonsumsi. Misalnya, onigiri (nasi kepal) dengan isian salmon (sake) atau tuna mayo, roti tawar, dan berbagai jenis cokelat tertentu. Pastikan Anda selalu mengecek ada tidaknya kanji yang menunjukkan babi, alkohol, atau gelatin pada label komposisi makanan.

Berwisata kuliner halal di Jepang membutuhkan sedikit riset ekstra, namun hal ini justru menambah keseruan petualangan Anda. Selalu gunakan aplikasi seperti Halal Navi atau Zabihah untuk melacak restoran terdekat. Jika Anda makan di restoran yang tidak bersertifikat halal resmi namun memiliki menu seafood atau vegetarian, jangan ragu untuk bertanya kepada pelayan (dalam bahasa Inggris atau tunjukkan kalimat dalam bahasa Jepang) mengenai penggunaan mirin atau kaldu daging dalam proses memasaknya. Dengan persiapan yang baik, Anda bisa menikmati kekayaan cita rasa otentik kuliner Jepang dengan tenang, nyaman, dan tentunya tanpa ragu.